Cerita Dewasa Goyangan Hot Gadis SMU

Cerita Dewasa Goyangan Hot Gadis SMU

Posted on

Cerita Dewasa Goyangan Hot Gadis SMU

Cerita Dewasa Goyangan Hot Gadis SMU

Cerita Dewasa – Cerita ini bemula ketika aku ingin menjemput pacarku pulang sekolah, tubuhnya seksi membuatku pengen ngesex setiap hari denganya.. mari kita simak, yo..

Erlisa atau panggilannya Lisa, gadis berkulit putih, tinggi 168 cm, berat 52 kg dan ukuran payudaranya saya perkirakan 36B, betul-betul anak SMU yang baru berkembang. Awal perkenalan saya dengan Lisa, kami janji bertemu di rental internet favorit saya dekat mall.

“Hallo.. Om yang namanya Adi?” tanya seorang gadis SMU pada saya.
“Iya.. Erlisa ya?” tanya saya kembali padanya sambil memperhatikan wajahnya yang manis, rambut hitam lurus sebahu dan masih memakai seragam SMU-nya.

“Lagi ngapain Om?” tanyanya sambil duduk di kursi sebelah saya.
“Lagi liat email yang masuk nich, panggil aja Adi ya” pintaku.
“Ya, panggil juga saya dengan Lisa” jawabnya sambil mepet melihat ke arah monitor komputer.
“Okey, Lisa bolos sekolah ya, jangan keserinngan bolos loh” nasehatku.
“Enggak kok, wong nggak ada guru, lagi ada rapat tuch”

Wangi juga bau parfumnya, mana rok abu-abunya span lagi, si boy jadi bangkit nich. Wah, kalo bisa making love sama Lisa, asyik juga.. Huh dasar lagi mumet nich otak, maunya si boy saja.

“Adi, Lisa boleh tanya nggak?”
“Boleh aja, Adi itu orangnya terbuka kok Lis’ fair, mau nanya apa?”
“Kalo tamu ceweknya Adi ngajak jalan-jalan, bayar nggak?”
“Oh itu, ya terserah ceweknya, pokoknya keliling Lombok ditanggung senang dech”
“Masalah hotel, akomodasi dan lain-lain ditanggung tamu, gitu”
“Kalo making love gimana?” tanya Lisa antusias.
“Kalo making love sich, terserah tamunya, kalo suka sama Adi, ayo aja”

“Biasanya Adi selama ini dibayar berapa sich?”
“Ya, kira-kira lima ratus ribu sampai satu jutaan”
“Itu berapa hari?”
“Terserah tamunya aja mau berapa hari, okey, puas?”
“Mmh..” guman Lisa seperti ingin menanyakan sesuatu tapi ragu-ragu.
“Kalo Lisa udah pernah dicium belum atau udah pernah making love?” tanyaku.
“Ih, si Om nanyanya gitu”

“Ah, nggak usah malu sama Adi, ceritain aja”
“Belum sich Di, cuma kalo nonton BF sering”
“Jangan ditonton aja, praktek dong sama pacar” tantang saya sambil menepuk pundaknya.
“Pacarnya Lisa itu agak aneh kok”
“Gimana kalo praktek sama Adi, ditanggung senang dan tidak bakalan hamil”
“Hush, jangan aneh-aneh Di, Lisa udah punya pacar lho”
“Nggak aneh kok, kalo praktek pacar-pacaran” rayu saya, sepertinnya ada peluang nich. Saya harus merayunya supaya Lisa tidak ragu-ragu lagi.
“Iya sich, tapi..” jawabnya ragu-ragu.

Setelah selesai membalas email yang masuk, saya berencana mengajak Lisa ke pantai Senggigi, siapa tahu ada kesempatan, ya nggak pembaca. Ternyata Lisa itu tinggal bersama ibunya yang masih berusia 47 tahun dan suaminya tugas keluar pulau selama beberapa bulan.

“Mau nggak ke pantai jalan-jalan, tadi Lisa naik apa?”
“Naik mobil, pake mobil Lisa aja” ajaknya bersemangat sambil menggandeng tangan saya seperti Om dan keponakannya.

Ternyata mobilnya memakai kaca rayban gelap dan ber-AC lagi, jadi siang itu kami meluncur ke pantai senggigi dan sebelumnya kami membeli beberapa camilan dan saya juga membeli kondom, biasa.. he.. he..

Lisa menjalankan mobil dengan santai, tapi saya jadi tegang terutama si boy dan bukan mobilnya yang jalan santai yang membuat saya tegang, rok abu-abunya itu lho. Sudah span, pas duduk dalam mobil otomatis bertambah pendek saja hingga memperlihatkan setengah bagian pahanya yang putih mulus dan masih kencang.

“Eh, Di, kok bengong, ngelamun jorok ya?”
“Eh.. Eh.. Nggak juga” jawab saya tergagap-gagap.
“Terus kenapa Liatin pahanya Lisa terus”
“Badanmu itu bagus kok, rajin fitnes ya?”
“Pasti, supaya badan Lisa tetap fit dan seksi. Gimana, seksi nggak?” tanyanya tersenyum.
“Seksi bo! Eh Lisa parkir aja yang di pojok tuch” tunjukku pada sebuah pojokan, agak menjauh dari jalan raya dan terlindungi oleh pepohonan, asyik nih siapa tahu bisa indehoy.

“Bagus juga tuch tempatnya” jawab Lisa setuju sambil memarkirkan mobilnya hingga pas dengan lebatnya pepohonan, yang kalau dari jalan raya tidak kelihatan dan juga tempatnya sepi, jauh dari pemukiman dan lalu lalang orang, paling-paling orang yang berjalan di pantai, itupun agak samar-samar.

Mudah-mudahan pembaca tidak bingung membayangkan ilustrasi tempat yang saya ceritakan. Setelah Lisa parkir, kami saling curhat tentang masalah pribadi Lisa yang belum pernah making love dan ibunya yang sering kesepian ditinggal suaminya pergi.

“Ngomongnya nggak enak ya kalo kita berjauhan begini”
“Maksud Adi..”
“Lisa duduk aja dekat Adi”
“Tapi kursi itu kan cuma satu”
“Ayo dong Lisa, duduk sini kupangku” rayu saya sambil menarik tangan kanannya.
“Malu ah, dilihat orang” jawabnya ragu-ragu sambil melihat ke arah pantai.
“Berarti kalau nggak ada orang nggak malu dong” ujarku sambil menarik tangannya agar mendekat pada saya.
“Ya.. Nggak gitu” jawabnya ragu-ragu.

“Saya udah jinak kok apalagi si boy ini paling jinak” goda saya lagi sambil menunjuk kontol saya yang sudah agak menggembung.
“Ih jorok ih” jawabnya tertawa pelan.
“Mau nggak?”
“Emm.. Bagaimana ya”
“Mau dech..” dan akhirnya dengan paksaan sedikit dan si Lisa yang ragu-ragu untuk duduk, saya berhasil menariknya bahkan Lisa duduk dengan sedikit ragu.

Saya pangku Lisa sambil melihat kembali ke arah pantai. Posisi Lisa yang saya pangku menyamping hingga kalau melihat ke pantai agak menoleh sedikit. Posisi itu sungguh enak dan kelihatan si Lisa juga menikmatinya, kelihatan dari tangan kanannya yang melingkar pada bahu saya.

“Oh ya, Adi mau nanya hal pribadi, boleh nggak?”
“Boleh aja, Lisa itu orangnya terbuka kok” jawabnya sambil menggeser pantatnya supaya tidak terlalu merosot. Wah si boy saya jadi berdiri gara-gara si Lisa memperbaiki posisi duduknya hingga pantatnya yang semok semakin mepet sama si boy. Coba pembaca bayangkan seperti posisi saya saat ditemani cewek SMU berumur 18 tahun yang bongsor dan seksi, pasti si boy mau berontak keluar, so pasti coy.

“Lisa pernah nggak making love?”
“Mmh.. Gimana ya” jawab Lisa ragu-ragu sambil menggigit jari kelingking tangan kirinya.
“Ceritain dong..” bujuk saya sambil mengelus pahanya yang masih terbungkus rok abu-abunya yang mini.

Lumayanlah sebagai permulaan pemanasan, ini kesempatan kalau Lisa mau making love sama saya dan kalau tidak mau paling ditolak atau ditampar atau ditinggalkan, tapi dari perasaan saya sih, sepertinya mau.

“Pernah sih sama pacar, tapi itu dulu sebelum putus”
“Kok putus, kenapa emangnya?” tanyaku sambil tangan kiri saya memegang pinggangnya yang langsing.
“Sebetulnya Lisa sayang sama dia, kalau cuma making love sich tidak apa-apa”
“Yang penting pake kondom supaya aman”
“Terus apa masalahnya?”
“Ya itu, making lovenya agak aneh, masak Lisa diikat dulu”

“Wah, itu sich namanya ada kelainan namanya, harusnya dengan lembut”
“Oh ya, Adi kalau making love sama tamunya secara lembut ya”
“Tentu saja, maka banyak cewek yang senang dengan cara yang romantis dan lembut”
“Asyik dong”
“Mau nyobain nggak?” tantang saya sambil mengelus tangan kirinya yang ternyata sangat halus.

“Wuhh.. Maunya tuch” jawab Lisa mencibirkan bibirnya yang seksi.
“Pegang aja boleh nggak ya?” tanya saya mengiba dan tangan kanan saya mulai mengelus-ngelus pahanya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dengan lembut.
“Emh.. Gimana ya.. Dikit aja ya” jawab Lisa mengejutkan saya yang tadinya cuma bercanda, eh tidak tahunya dapat durian runtuh.
“Lisa, mau bagian mana dulu?” goda saya sambil mengelus punggungnya yang halus.
“Ih genit ah..” candanya manja.

Saya naikkan tangan kanan saya mencoba menjamah payudara kirinya yang masih terbungkus seragam sekolahnya dan kelihatannya tidak ada penolakan dari Lisa. Dengan perlahan lehernya saya cium perlahan dan jamahan tangan saya berubah menjadi remasan supaya membangkitkan gairahnya. Ternyata Lisa adalah tipe cewek yang libidonya cepat naik.

“Geli.. Adi..” rintihnya pelan, tangan kirinya membantu tangan kanan saya untuk lebih aktif meremas payudara kiri dan kanannya secara bergantian. Lehernya yang putih saya cium dan jilat semakin cepat.
“Sst.. pe.. lan.. Di..”

Setelah beberapa menit, tiba-tiba Lisa menurunkan tangan saya dan tangannya dengan terampil melepas tiga kancing atas bajunya serta mengarahkan tangan saya masuk ke dalam baju seragam SMU-nya dan tangan kirinya mengusap pipi saya.

Tangan kananku yang sudah separuh masuk baju seragamnya langsung masuk juga dalam BH-nya yang ternyata berwarna putih polos. Gundukan payudaranya ternyata sudah keras dan tanpa menunggu aba-aba saya remas payudaranya dengan perlahan, kadang-kadang saya pelintir puting susunya.

“Di.. Sst.. Mmh.. Yang ki.. ri.. sst..” rintihnya pelan takut kedengaran.
“Lisa, boleh nggak saya ci..” belum sempat habis pertanyaan saya, Lisa sudah mencium saya dengan lembut yang kemudian saya balas ciumannya.

Semakin lama lidah saya mencari lidah Lisa dan kami pun berciuman dengan mesra, bahkan saling menjilat bibir masing-masing. Sambil berciuman, kancing baju atas seragam Lisa yang tersisa itu pun langsung saya lepas hingga tampaklah payudaranya dengan jelas. Kembali saya cium payudaranya. Selama beberapa menit berciuman, kuluman dan hisapan pada putingnya membikin Lisa bertambah merintih dan mendesis, untung saja pada saat itu masih sepi dan bukan hari libur atau hari minggu.

“Mmh.. gan.. ti.. sst.. kiri.. sstt..” rintih Lisa memberi aba-aba sambil tangan meraih kepala saya dan menggeser serta menekan pada payudaranya.
“Ter.. Us.. Sst.. Di..”

Tangan kanan saya yang sedang berada di pusarnya turun merayap masuk ke dalam rok abu-abunya dan mengelus vaginanya yang masih terbungkus CD searah jarum jam.

“Sst.. Terus.. Di” rintih Lisa yang ikut membantu menyingkapkan rok abu-abu SMU-nya ke atas hingga pantatnya yang putih menyentuh paha saya yang masih terbungkus celana jins.

Setelah beberapa saat, saya masukkan tangan kanan ke dalam CD putihnya yang ternyata ditumbuhi bulu halus yang terawat rapi dan saya usap beberapa menit.

“Sst.. Di.. Ge.. Li.. Mmh..” gumam Lisa pelan sambil matanya menatap setengah sayu. Gerakan jari tangan saya keluar masukkan ke dalam vaginanya yang mulai basah.
“Mmh.. Sst.. Enak.. Di.. Te.. Rus.. Agak cepe.. tan.. Sst”
“Sst.. Ya.. Nah.. Sst.. Gitu” rintih Lisa yang kelihatan mulai terangsang hebat.

Tangan kiri saya yang tadinya hanya mengusap-usap pinggangnya jadi aktif mengusap payudara kirinya dan saya percepat permainan tangan pada vaginanya dan tiba-tiba saja Lisa menjepit tangan saya dan disusul keluarnya cairan putih, berarti Lisa telah orgasme yang pertama.

“Mmh.. Nikmat juga ya rasanya Di” gumam Lisa sambil memandangku sayu.
“Mau nggak ngerasain si boy?” bujuk saya melihat Lisa yang sedang terangsang berat.
“Mmh..” gumannya pelan, agak ragu Lisa menjawab tapi akhirnya Lisa pindah ke belakang mobil, wah tambah asyik nich.

Saya juga berpindah ke belakang mobil sambil melepas celana jins serta CD saya hingga bagian bawah saya bugil dan atasnya masih memakai kaos, untuk berjaga-jaga siapa tahu ada orang lewat.

“Di.. Pelan aja” guman Lisa pelan sambil melepas CD putihnya hingga Lisa sekarang bagian bawah atasnya juga bugil cuma memakai baju seragam SMU-nya tanpa BH.
“Ya, Sayang, kupakai kondom dulu ya supaya aman” jawab saya sambil mengambil posisi duduk menghadap ke depan dan mengarahkan Lisa dalam posisi saya pangku serta menghadap saya. Pantatnya yang semok saya pegang dengan kedua tangan dan memberi arahan pada Lisa.

“Pegangin si boy, ya tangan kanan” pinta saya pada Lisa yang memegang kontolku dan mengarahkan ke vaginanya yang masih sempit.
“Nanti Lisa dorong ke bawah ya, kalau udah pas kontolnya”
“Aduh.. Sakit..” rintih Lisa karena kontol saya meleset pada bibir vaginanya.

Kembali saya arahkan kontol pada lubang vaginanya, pada usaha keempat, bless akhirnya masuk kepala dulu.

“Sst.. Pe.. Lan.. Di..” Rintih Lisa sambil memegang tangan kiri saya dengan tangan kanannya dan mengigit bibir bawahnya dengan pelan.
“Pertamanya sakit kok, tapi agak lama juga enak” rayu saya sambil mendorong pinggulnya ke bawah hingga lama kelamaan, bless..
“Akhh..” jerit Lisa lirih karena kontol saya semuanya masuk dalam vaginanya.
“Gimana rasanya?”

“Sakit sich, tapi.. Geli..” gumam Lisa mencium saya dengan lembut. Dengan perlahan saya sodok vaginanya naik turun hingga Lisa mendesis lirih.
“Sst.. Agak.. ee.. tengah.. sst..” rintih Lisa lirih sambil menggoyangkan pinggulnya hingga sodokan dan goyangan itu menimbulkan bunyi clop.. clop.. clop.., begitu kira-kira.

Semakin lama sodokan saya percepat disertai dengan goyangan Lisa yang makin liar hingga tangan saya kewalahan menahan posisi vaginanya agar pas pada kontol saya yang keluar masuk makin cepat. Bahkan payudaranya bergoyang-goyang ke atas ke bawah, kadang membentur muka saya, sungguh nikmat sekali pembaca.

“Barengan ya keluarnya ya.. Mmh..” perintah saya pada Lisa karena sepertinya lahar putih saya sudah sampai puncaknya, jadi saya berusaha bertahan beberapa menit lagi.
“Mmhm.. Sst.. Ya.. Di..”
“Ce.. Petan.. Sst.. Di..” rintih Lisa sambil memeluk dan menjepit saya dengan keras. Rupanya Lisa sudah mencapai puncaknya dengan goyangannya yang makin keras.

“Ssrtss.. Seka.. Rang.. Sst.. Akhkk..” jerit Lisa karena keluarnya cairan putih itu yang berbarengan dengan bobolnya pertahanan saya, secara bersaman kami saling memeluk menikmati sensasi yang luar biasa itu.

Beberapa saat kami masih berpelukan disertai tetesan keringat membasahi badan padahal mobil masih menjalankan AC-nya hampir full.

“Gimana rasanya, puas nggak” tanya saya sambil mencium bibirnya yang indah itu.
“Ternyata enak juga making love sama Om Adi”
“Lain sama pacarnya Lisa, agak kasar sich” celotehnya sambil melepaskan pelukan saya dan memakai kembali CD dan BH-nya yang berwarna putih itu, setelah Lisa kembali memakai seragam sekolahnya dan tentu saya juga, jam telah menunjukkan pukul 11.45 siang.

“Sebagai tanda terima kasih, gimana kalau Om Adi kutraktir”
“Boleh saja, sekarang kita kemana?” tanya saya melihat Lisa menjalankan mobilnya menuju kota.
“Pulang dong” jawabnya manja.
“Lho, terus saya ngapain”
“Nanti kukenalin sama mamanya Lisa dan adiknya Lisa, mau nggak Om?”
“Okey..”

Ternyata Lisa tinggal di perumahan mewah, pantas bawanya mobil. Tampak seorang wanita yang anggun dan cantik berusia kurang lebih 47 tahun sedang membaca sebuah majalah. Tapi yang menarik perhatian saya, baju longdress yang dikenakannya dengan belahan atas yang rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang berwarna putih itu, mungkin lebih besar daripada punya Lisa, tingginya kira-kira 163 cm/50 kg.

“Selamat siang Bu” sapa saya sopan.
“Selamat siang Pak” jawabnya ramah sambil bersalaman dengan saya.
“Ini Ma, guru privat matematika Lisa yang baru, rencananya sich abis makan siang kita belajar”
“Oh ini to, yang namanya Pak Adi yang sering diceritain Lisa”
“E.. Eh.. Ya..” jawab saya tergagap-gagap karena begitu lihainya Lisa memperkenalkan saya sebagai guru privatnya, pelajaran matematika lagi, aduh.. gawat padahal saya tidak bisa apa-apa.

Setelah berbicara dengan ibunya mengenai les dan biaya tetek bengek lainnya, disepakati bahwa les privat cuma bisa saya lakukan dua minggu, itu pun harinya selang seling. Siang itu saya makan bersama Lisa setelah ditinggal ibunya pergi keluar dan baru pulang sore hari. Lisa sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos ketat khas ABG.

“Gila kamu Lisa, nanti kalau ketahuan ibumu gimana?”
“Tenang aja Om, mama itu jarang kok nyampurin urusan Lisa”
“Oh, gitu”
“Katanya Om mau ngajarin Lisa” goda Lisa penuh arti sambil mengerling nakal. Ini baru namanya surga dunia, setelah puas makan kami mengobrol sambil menonton film DVD yang dibawa Lisa.

Selama dua minggu itu sebelum Lisa akhirnya pindah ke Jakarta, kami sering making love tanpa sepengetahuan mamanya, pokoknya hampir tiap bertemu dengan berbagai posisi, yang sering di mobil, kamar tidur, kamar mandi, bahkan di suatu acara ulang tahun mamanya, saya diundang.

“Gimana Di, ramai nggak ulang tahun mama saya?”
“Wah, ramai sekali, pasti papamu pejabat ya?”
“Ah enggak kok, Papa itu pengusaha”

“Oh gitu” jawab saya sambil memperhatikan Lisa yang malam itu memakai gaun yang sungguh indah, apalagi belahan atas gaunnya sungguh rendah hingga memperlihatkan payudaranya yang putih itu, mungkin tidak pake BH, gaunnya yang berwarna hijau cuma sebatas di atas lutut. Bahkan kalau Lisa duduk dan saya perhatikan gaun bawahnya, mungkin dengan sengaja Lisa membuka gaun bawahnya hingga memperlihatkan CD-nya yang berwarna merah muda itu. Wow, sungguh membuat si boy berontak, tapi saya pura-pura cool saja

“Di, Lisa lagi pengin nich, gimana?” tanya Lisa tiba-tiba sambil mendekat pada saya.
“Kita cari ruangan yuk” ajak saya yang kebetulan tadi melihat ruangan dekat taman sedang kosong.
“Lho kok ke sini, apa tidak ke kamar?” tanya Lisa heran.
“Bosan ah di kamar, cari variasi lain, mau nggak?”
“Ayo, cepetan waktunya mepet nich” gandeng Lisa terburu-buru.

“Lisa, kamu malam ini can..” belum sempat saya berkata romantis sudah dipotong Lisa dengan ciumannya yang melumat bibir saya dengan ganas, kami pun berciuman dengan alot sambil tangan saya masuk ke belahan gaunnya dan meremas payudaranya dengan gemas.

“Mmh..” gumam Lisa karena bibirnya sudah menyatu dengan bibir saya sambil tangannya membuka resleting celana panjang saya dan meremas-remas kontol saya yang sudah berdiri sejak tadi.

Beberapa menit kami saling melakukan ciuman dan remasan hingga akhirnya Lisa mendorong saya perlahan.

“Ayo Di, buka celanamu” perintah Lisa sambil melepas CD saya dan Lisa mengambil posisi berjongkok untuk menghisap kontolku dengan sedotan yang agak keras.
“Pe.. Lan.. Aja..” pinta saya pada Lisa karena kerasnya hisapan Lisa hingga semua kontol saya masuk pada mulutnya. Beberapa menit telah berlalu dan saya sungguh tidak tahan dengan posisi tersebut.

“Gantian dong..” pinta saya pada Lisa sambil saya berjongkok dan membuka CD merah mudanya serta menghisap vaginanya dan mencari biji kacangnya, menghisap dan menjilat sampai dalam vaginanya hingga semakin banyak cairan yang keluar dan Lisa semakin merintih-rintih dalam posisi berdiri.

“Sst.. Isep.. Yang keras.. Di.. Sst..”
“Udah Di.. Sst.. Ayo..” rintihan dan celotehan Lisa meminta saya untuk memasukkan si boy ke dalam vaginanya.

Kami sekarang berdiri tapi Lisa menghadap ke tembok, saya singkap gaunnya dari belakang, dengan dibantu Lisa saya berusaha menyodokkan kontol saya dari belakang pantatnya. Akhirnya masuk semua kontol saya dalam vaginanya, sodokan demi sodokan dengan cepat membuat Lisa merintih meminta saya segera mengakhiri permainan itu, beberapa puluh menit kemudian..

“Sst.. Ayo.. Di.. Sst.. Keluarin..”
“Lisa udah pegel nich sst..” rintih Lisa lirih karena kami jarang melakukannya dalam posisi berdiri.
“Sst.. Aduh.. Akhkk..” Dan akhirnya croott.. croot.. Keluarlah lahar putih itu bersamaan dengan jeritan Lisa.

Itulah malam terakhir kami sebelum Lisa dan mamanya pindah ke Jakarta mengikuti tugas papanya yang saya dengar dipromosikan jadi general manager di sana. Selamat jalan Lisa, sampai ketemu lagi lain waktu, dan kalau kamu membaca cerita ini, jangan lupa ya kasih komentarmu bagian mana yang kurang. Cerita Sex

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *